share on:
Memperingati hari HIV / AID sedunia

IPKB Kaltim.com-Pengidap HIV/AIDS di Sumatera Utara (Sumut) pada umumnya kurang dibekali pengetahuan yang cukup. Jadi, ketika seseorang sudah divonis positif terinfeksi, stigma terhadap diri sendiri tidak bisa dihindarkan.

Hal ini diperparah lagi dengan sikap masyarakat di lingkungan sekitar yang masih belum menerima kondisi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). “Disinilah peran orang yang memiliki pengaruh di masyarakat seperti tokoh masyarakat, pemuka agama, orang tua dan dokter untuk merubah pola pikir diri pribadi supaya stigma negatif terhadap ODHA dapat dihilangkan, “jelas ketua Medan Plus, Eban Tontonta Kaban saat ditemui Analisa di ruang kerjanya pada, Selasa (27/11).

Lebih lanjut dikatakan, ada dua hal yang harus diperhatikan untuk menghapus stigma. Yang pertama, memberdayakan komunitas ODHA dan diposisikan sebagai subjek. Jadi, ODHA dilibatkan langsung dalam upaya pemberantasan HIV/AIDS, bukan sebagai objek untuk menarik atau mengetuk hati pendonor. Kedua, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi ODHA untuk meneruskan kehidupannya. Hal ini dapat diwujudkan melalui program rehabilitasi dan penyuluhan supaya mereka punya pengetahuan, kepedulian dan mau dengan sukarela tidak menularkan virus tersebut pada orang lain.

Jika hal ini efektif dilakukan dapat menurunkan dan menekan angka kematian dan penularan HIV/AIDS sesuai dengan program Millenium Development Goals (MDGs) Indonesia.

Selanjutnya, ketika masyarakat juga sudah diberi pemahaman tentang penghapusan stigma yang tak kalah penting ialah adanya aturan yang jelas dan mengikat yang menjamin ODHA dapat diperlakukan sama dengan manusia normal lainnya. “Harus ada kebijakan yang mengatur bagaimana ODHA dapat diperlakukan sama dengan orang sehat lainnya, “ujarnya.

Gerakan nasional

Eban menjelaskan, gerakan nasional anti stigma terhadap ODHA harus dimulai dari pemimpin seperti, Presiden, Gubernur, Wali Kota dan Bupati. Dengan sukarela untuk memeriksakan dirinya ke pusat layanan yang telah ditunjuk pemerintah. Jika hal ini sudah dimulai ditingkat pengambil kebijakan besar kemungkinan masyarakat tidak segan-segan untuk melakukan pemeriksaan ke klinik VCT.

Terkait dengan layanan dini seputar HIV/AIDS Medan Plus saat ini sedang mendorong kualitas layanan yang ada di setiap daerah. Seperti ketersediaan fasilitas pendukung, petugas yang mumpuni dibidangnya dan menjiwai peran dan fungsinya. Agar penderita yang memeriksakan dirinya ke pusat layanan tidak merasa menjadi orang yang paling bersalah.

“Penanggulangan HIV/AIDS masih sangat panjang. Kami memprediksi 5 tahun kedepan kasus ini masih mengalami peningkatan. Fenomena gunung es dengan ditemukannya kasus-kasus lama yang ternyata semakin meluas juga harus diimbangi dengan menekan kasus baru yang juga mengancam, “ungkapnya. (analisa-yy)

Tags:
share on: