You Are Here: Home » Berita » Daerah » Masih Rapuhnya Ketahanan Keluarga

Masih Rapuhnya Ketahanan Keluarga

Oleh : Alvi Juni Rachmawati, SKM,MPd

Alvi Juni Rachmawati, SKM,MPd

Alvi Juni Rachmawati, SKM,MPd

IPKB Kaltim – Pada saat terkuak adanya prostitusi on line yang konsumennya adalah para phidofilia serta kaum gay, banyak para orang tua terhenyak. Kenapa? Karena yang dijual adalah para anak laki-laki kisaran usia 13 sd 17 tahun.

Sudah ada sekitar  93 anak yang teridentifikasi, hal ini tentu  menambah panjang daftar bagaimana rapuhnya ketahanan keluarga di Indonesia.

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Dan Keluarga Berencana Provinsi Kalimantan Timur Halda Arsyad  mengatakan Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dari tahun 2014 – 2015 itu meningkat sekitar 22,34% dan terbesar terjadi di Samarinda.

Dimana 25% disumbang dari kasus kekerasan seksual terhadap anak. Dari data 2014 terdapat 185 diantaranya 29 dialami oleh anak laki laki dan 156 perempuan sedang 2015 terjadi 235 kasus 65 laki laki dan 170 perempuan (http://wartakutim.com/2016/06/05/kasus-kekerasanseksual-terhadap-anak-di-kaltim-meningkat/).

Idealnya jika di dalam keluarga terjadi komunikasi yang efektif, dan para orang tua paham bagaimana melindungi anggota keluarganya dalam kehidupan yang harmonis, maka hal tersebut tidak mungkin terjadi. Selain orang tua, dimana peranan masyarakat untuk ikut andil dalam memfilter hal-hal yang negatif yang ada di lingkungannya?.

Bagaimana pula peranan lingkungan sekolah (pemerintah) di dalam menciptakan anak didik yang yang memiliki ketahanan diri yang tinggi? Teori Pembentukan Karakter Stephen Covey melalui bukunya 7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif, bahwa sebenarnya ada tiga teori utama yang mendasarinya,

  1. Determinisme Genetis, pada dasarnya karakter adalah terbentuk karena faktor keturunan. Itulah sebabnya anak memiliki tabiat seperti orang tua/kakek-nenek.
  2. Determinisme Psikis, pada dasarnya pengasuhan orangtua mendominasi pembentukan karakater anak. Pengasuhan dan pengalaman masa anak-anak pada dasarnya membentuk kecenderungan pribadi dan susunan karakter anak
  3. Determinisme Lingkungan, pada dasarnya mengatakan sesorang atau sesuatu di lingkungan anak-anak bertanggungjawab atas situasi anak-anak tersebut

Mencermati teori tersebut idealnya ada satu formulasi yang lebih mendalam tentang peranan dari ketiga lingkungan tadi, yakni lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah (pemerintah)

Proses Pembentukan Karakter

Dimulai dari adanya nilai yang diserap seseorang dari berbagai sumber, mungkin agama, ideology, pendidikan, temuan sendiri atau lainnya. Nilai membentuk pola fikir seseorang yang secara keseluruhan keluar dalam bentuk rumusan visinya.

Visi turun ke wilayah hati membentuk suasana jiwa yang  secara keseluruhan membentuk mentalitas. Mentalitas mengalir memasuki wilayah fisik dan melahirkan tindakan yang secara keseluruhan disebut sikap.

Sikap-sikap yang dominan dalam diri seseorang yang secara keseluruhan mencitrai dirinya adalah apa yang disebut sebagai kepribadian atau karakter. Proses pembentukan mental tersebut menunjukan keterkaitan antara fikiran, perasaan dan tindakan.

Dari akal terbentuk pola fikir, dari fisik terbentuk menjadi perilaku. Cara berfikir menjadi visi, cara merasa menjadi mental dan cara berprilaku menjadi karakter. Apabila hal ini terjadi terus menerus akan menjadi sebuah kebiasaan.

Bagaimana  Mengubah Karakter

Bahwa akar dari perilaku itu adalah cara berfikir dan cara merasa seseorang. Sehingga untuk mengubah karakter seseorang dengan cara  pertama adalah melakukan perbaikan dan pengembangan cara berfikir yang kemudian disebut terapi kognitif, dimana fikiran menjadi akar dari karakter seseorang.

Langkah kedua adalah melakukan perbaikan dan pengembangan cara merasa yang disebut dengan terapi mental, karena mental adalah batang karakter yang menjadi sumber tenaga jiwa seseorang. Langkah ketiga adalah melakukan perbaikan dan pengembangan pada cara bertindak yang disebut dengan terapi fisik, yang mendorong fisik menjadi pelaksana dari arahan akal dan jiwa.

Hidup di zaman modern ini semua serba ada, baik dan buruk, halal haram, benar salah nyaris campur menjadi satu, sulit untuk dibedakan. Maka idealnya seseorang mampu memilih dan memilah perbuatannya.

Hal yang perlu diperhatikan dalam membentuk karakter adalah melalui pembiasaan tingkah laku sopan, kebersihan, kerapian dan ketertiban, kejujuran dan disiplin.

Di dalam program KKBPK, khusus untuk pembentukan karakter anak sudah harus dilakukan sedini mungkin yang terangkum pada kegiatan Bina Keluarga Balita Holistik Integratif (BKB) dimana para orang tua yang tergabung di dalam kelompok kegiatan tersebut diberi pembekalan tentang bagaimana menjadi orang tua yang ideal.

Ideal di dalam berpikir, ideal dalam pola asah, asih dan asuh bagi tumbuh kembang anak-anaknya. Dalam kegiatan BKB para orang tua dibentuk menjadi orang tua yang hebat.

Bagaimana partisipasi dari masyarakat Kaltim dengan adanya BKB? Menurut data Perwakilan BKKBN Provinsi Kaltim sampai dengan bulan Juli 2016 dari sasaran 37.668 keluarga, nampak bahwa kesadaran keluarga untuk menjadi keluarga yang ideal yang memiliki ketahanan yang tinggi pun masih cukup rendah.

Hal ini nampak pada prosentase partispasi dari keluarga sasaran 32,24%, ini  masih perlu ada peningkatan kualitas dari kelompok BKB, hal ini nampak pada penggunaan KKA yang masih berkisar 55,25%. Mari kita dukung program pemerintah yang terkait dengan pembentukan karakter anak, karena hasil kerja kita sekarang adalah penentu masa depan bangsa.

 

 

 

 

About The Author

Number of Entries : 380

Leave a Comment

All right Reserved © 2015 IPKB Kaltim Powered By WP-by Design K-Website

Scroll to top