share on:

Balikpapan – Kepala Perwakikan BKKBN Provinsi Kalimantan Timur, Dr. Sunarto, SKM, M.Adm.KP., bersama dengan Kasdam IV/Mulawarman, Brigjen. TNI Ibnu Setiawan, S.I.P., MM., dan Irwasda Polda Kalimantan Timur, Kombespol Jefri Torunde, S.I.K., MH., mengikuti secara daring Kick Off Kolaborasi Percepatan Penurunan Stunting di Gedung Mahakam Kantor Kepolisian Daerah Provinsi Kalimantan Timur, Senin (8/8).

Kegiatan Kick Off Kolaborasi Percepatan Penurunan Stunting yang mengambil tema “Kolaborasi Demi Anak Negeri untuk Mewujudkan SDM Unggul Indonesia Maju” ini, dilaksanakan di Graha Puri Ardhya Garini, Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur.

Kepala BKKBN Republik Indonesia Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K). dalam laporannya mengatakan bahwa angka stunting nasional saat ini masih sebesar 24,4 persen. Tiap tahun ada 4,8 juta ibu hamil dan melahirkan. Praktis sekitar 1,2 juta anak stunting lahir tiap tahun jika tidak berbuat apa-apa untuk mengatasinya.

“Bangsa kita saat ini menghadapi situasi di mana penduduk usia produktif jauh lebih banyak dibanding yang tidak produktif. Setiap 100 penduduk hanya menanggung kurang dari 46 yang tidak produktif. Sehingga, kalau bangsa kita mau maju dan naik pendapatannya, sekaranglah masanya,” tutur Hasto.

Hal ini penting dicapai. Karena jika tidak, generasi muda yang berikutnya harus mampu menanggung beban besar jika Indonesia sudah masuk the ageing population atau era penduduk berusia Karenanya, upaya menurunkan kasus stunting memang perlu dilakukan jika ingin memajukan bangsa. Apalagi, stunting memang merugikan bagi sumber daya manusia. Karena anak stunting ini ada tiga cirinya. Yaitu anak stunting pasti pendek, sehingga tidak bisa jadi TNI, Polri dan lain sebagainya. “Tapi pendek belum tentu stunting,” tutur Hasto meluruskan.

Lalu, kemampuan intelektual anak stunting rendah. Dengan demikian, kemampuan akademik anak stunting tentu tidak optimal. Kerugian ketiga, belum masuk hari tua, anak stunting biasanya sudah mengalami banyak permasalahan akibat central obesity atau gemuk di bagian tengah tubuh. Ini membuat mereka makin mudah terkena obesitas, sakit jantung dan diabetes.

Hasto juga membeberkan ada beberapa hal yang menyebabkan stunting. Yaitu, kurang mendapatkan makanan bergizi. Khususnya protein hewani. “Sekecil apapun protein hewani ini sangat penting,” tuturnya.

Penyebab kedua adalah suboptimal health. Penyebab ketiga adalah suboptimal parenting. Karenanya BKKBN berkolaborasi dengan banyak pihak. Baik dengan Polri, TNI maupun sektor swasta dalam melaksanakan program bapak asuh anak stunting. “Peran TNI dan Polri maupun tokoh masyarakat sangat strategis dalam percepatan penurunan stunting ini,” tutur Hasto.

Sementara itu, Sunarto mengatakan kegiatan yang disaksikan bersama hari ini adalah upaya kolaborasi bersama dalam penanganan stunting. “Kembali kami sampaikan bahwa berbicara soal penurunan stunting kita harus menggaet semua mitra kerja. Hari ini ibu Panglima TNI sudah melakukan penandatanganan MoU, artinya keterlibatan organisasi wanita dalam penurunan stunting. Kick off hari ini adalah awal dari kolaborasi percepatan penurunan stunting,” imbuhnya.

 

 

share on: