share on:
Paling kiri Kepala DPPKBP3A Berau Rahaini, Kepala Perwakilan BKKBN Kaltim Eli Kusnaeli  (tengah) dan Bupati Kabupaten Berau Muharram

IPKB Kaltim –  Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana ,Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Berau Rohaini mengatakan KB pria kurang diminati masyarakat setempat.

“Meskipun kurang diminati masyarakat namun kami terus berupaya menggalakkan dan mensosialisasikan KB pria  dengan Metode Operasi Pria  (MOP) atau  vasektomi,” katanya di Berau pada  peresmian Gedung Balai Penyuluhan KB di Kecamatan Sambaliung,Kamis.

Menurut Rohaini semenjak dirinya menjabat Kepala  DPPKBP3A Berau tahun 2017 hingga  sampai saat ini awal  2019 hanya ada satu akseptor yang bersedia melakukan MOP, seharusnya kaum pria juga mendukung program KB.

“Selama ini ada imege bahwa urusan ber KB adalah urusan perempuan, padahal ber KB bisa dilakukan kaum pria,” katanya.

Rohaini menjelaskan mengapa KB pria kurang diminati oleh masyarakat bukan berarti  kurangnya sosialisasi yang dilakukan oleh Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) tetapi ada image atau persepsi  yang ada di masyarakat bahwa jika MOP atau vasektomi kejantanan pria tidak berfungsi.

Selain itu ada kekhawatiran kaum istri akan suaminya berselingkuh sehingga tidak memberikan ijin kepada suaminya untuk ber KB. Hal-hal seperti itulah yang harus kita berikan pemahaman tentang MOP.

“Kami akan memberi reward  atau hadiah kepada kaum pria  yang melakukan vasektomi,”katanya.

Sementara itu Bupati Berau M.Muharram ketika dimintai pendapatnya tentang KB pria, ia mengatakan MOP atau vesektomi ada dua pendapat yang berbeda  yakni ada yang menghalalkan dan ada pula yang mengharamkan.

“Bagi yang merasa halal silahkan untuk vasektomi dan  bagi yang merasa itu haram tidak boleh di paksa,” tegas Muharram.

Lanjut Muharram semua tergantung masing-masing keluarga, apakah kaum perempuan yang ber KB atau kaum pria sebab tujuannya untuk kebaikan dan mensejahterakan keluarga.

Kepala Perwakilan BKKBN Kaltim,Eli Kusnaeli menambahkan tujuan ber KB adalah bukan untuk membatasi orang untuk memiliki anak, tetapi tujuannya mengatur jarak kelahiran dan masalah KB bukan hanya persoalan kontrasepsi semata, tetapi lebih kepada peningkatan kesejahteraan keluarga.

Terkait masalah KB pria tentunya ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon akseptor  di antaranya benar-benar tidak menginginkan anak lagi dan sudah mantap melakukannya.

Kemudian  mendapat persetujuan dari istri dan minimal anaknya dua serta usia anak terakhir lebih dari lima tahun.

“Jadi tidak semua calon akseptor yang ingin MOP kita layani, harus memenuhi beberapa persyaratan terlebih dahulu,” katanya.

Eli menambahkan di Provinsi Kalimantan Timur sendiri sebaran KB pria masih terbatas di wilayah perkotaan seperti Kota Samarinda, Balikpapan, Botang serta Kabupaten Kutai Timur.(*)

 

share on: