share on:
Prof Dr Eny Rochaida,Msi dari Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI) Kaltim saat sosialisasikan hasil kajian dampak kependudukan (Rhd)

IPKB Kaltim – Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Timur bekerjasama dengan Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI) Provinsi Kaltim menggelar sosialisasi hasil kajian dampak kependudukan di Kaltim.

“Hasil kajian ini hendaknya dapat dimanfaatkan bagi pemerintah daerah sebagai pertimbangan dalam membuat kebijakan,”kata Plt Kabid Pengendalian Penduduk (Dalduk) BKKBN Kaltim,Hartini usai membuka sosialisasi di Samarinda, Selasa (18/12).

Ia mengatakan ada berbagai permasalahan kependudukan yang harus diketahui   dalam menyusun perencanaan pembangunan di antaranya laju pertumbuhan penduduk, ledakan penduduk , mobilitas penduduk dan kualitas penduduk yang masih rendah.

Oleh karena itu pentingnya mengetahui tentang masalah kependudukan  dan dampak-dampaknya sehingga dapat dilakukan langkah antisipasi dengan pengendalian agar penduduk tumbuh seimbang dan berkualitas.

“Upaya pengendalian penduduk tersebut telah dilakukan BKKBN dengan mengajak masyarakat berpartisipasi dalam program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK),” kata Suhartini.

Sementara Prof Dr Eny Rochaida,Msi dari Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI) Kaltim mangungkapkan bahwa IPADI Kaltim telah  melakukan kajian terkait dampak pengendalian penduduk dan bonus demografi.

“Kinerja pemerintah melalui BKKBN dan instansi terkait beberapa puluh tahun lalu, dampaknya baru dirasakan sekarang atau sebaliknya kinerja sekarang dampaknya dapat dirasakan 10-20 tahun mendatang,”katanya.

Perlu diketahui katanya bahwa tujuan dari pembangunan adalah untuk manusia atau penduduk, “dari kita untuk kita” jadi perencanaan  pembangunan kedepannya berbasis pada kependudukan.

Eny menegaskan mulai sekarang stakeholder  harus paham persoalan-persoalan kependudukan, jika para stakehoder tidak peduli dengan perkembangan kependudukan maka dampak-dampaknya akan dirasakan dimasa akan datang, terjadi berbagai persoalan sosial,budaya  ekonomi, keamanan dan kemiskinan.

“Bonus demografi akan dialami bangsa Indonesia pada puncaknya tahun 2030  mendatang,”katanya.

Berdasarkan hasil kajian IPADI Kaltim , masih banyak masyarakat maupun stakehoder belum mengetahui  apa itu bonus demografi, sepertiya kurang tersosialisasikan. Adapun pengertian bonus demografi adalah dimana kondisi usia produktif lebih banyak dibanding usia non produktif.

Menurutnya  untuk mendapatkan peluang bonus demografi  maka harus benar-benar dimanfaatkan dengan mempersiapkan usia remaja dari  sekarang.

“Jika  usia remaja tidak dipersiapkan dari sekarang maka bonus demografi akan berdampak sebaliknya menjadi bencana menimbulkan berbagai persoalan sosial, ekonomi, keamanan dan kemiskinan,”ujar Eny Rochaida.(*)

 

share on: