share on:
Gubernur Kaltim. H. Awang Faroek Ishak

IPKB Kaltim.com,Samarinda- Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak memberi pujian atas kinerja Perwakilan Badan Koordinasi Keluarga  Berencana Nasional (BKKBN) selama lebih dari 30 tahun di Kaltim. Pelaksanaan program KB di Kaltim menurut Gubernur Awang Faroek sudah sangat berhasil, meski hambatan dan tantangan masih perlu terus disikapi dan diantisipasi.

”Selama kurun waktu tersebut, BKKBN telah berhasil memperkenalkan program KB kepada masyarakat dan menjadikan program KB sebagai bagian kebutuhan masyarakat untuk mengatur jumlah keluarganya,” kata  Awang Faroek di Pendopo Lamin Etam, Senin (17/12).

Meski demikian, Awang mengatakan, hambatan dan tantangan akan selalu ada sehingga perlu disikapi dan ditemukan solusi terbaik mengatasinya,” kata Awang Faroek.

Pembangunan bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera (KB-KS) di Kaltim, selama ini telah mencapai berbagai kemajuan. Sensus 2010 menunjukkan peningkatan jumlah penduduk yang cukup besar.

Pada tahun 2000 jumlah penduduk sebanyak 2.443.334 jiwa dan pada tahun 2010 naik menjadi 3.550.586 jiwa  atau selama waktu 10 tahun bertambah  1,1 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk 3,80 %. Angka ini tergolong cukup tinggi, bahkan Kaltim menempati urutan ketiga tertinggi dalam pertumbuhan penduduk di Indonesia setelah Kepulauan Riau dan Papua.

Namun demikian, pertumbuhan penduduk sebesar 3,80 % tersebut sebenarnya bukan karena kegagalan pelaksanaan program kependudukan dan KB, tetapi karena pertambahan migrasi yang cukup besar. Pendatang dari provinsi lain menyerbu Kaltim karena Kaltim dianggap sebagai daerah yang dapat memberi peluang usaha dan pekerjaan yang lebih baik, sehingga orang banyak berdatangan untuk mengadu nasib.

Gubernur menegaskan, menyikapi kenyataan tersebut, maka sudah saatnya pertambahan penduduk ini mendapat perhatian serius,  agar jangan sampai pertambahan penduduk justru membebani daerah dan menghambat proses pembangunan. Selain itu, kepada keluarga yang berstatus pasangan usia subur (PUS) yang belum ber-KB, perlu diajak untuk menjadi peserta KB.

Fakta dan data lain yang perlu menjadi perhatian adalah hasil SDKI tahun 2007 yang menunjukkan angka kelahiran (TFR) Kaltim masih cukup tinggi yaitu 2,7 perwanita, yang berarti di atas rata-rata Nasional sebesar 2,6 per wanita.

”Perlu saya tegaskan perlunya terobosan dan langkah-langkah konkrit untuk terus meningkatkan kesejahteraan PUS untuk menjadi peserta KB aktif sehingga mampu memberikan daya bangkit terhadap penurunan angka kelahiran dan penurunan angka kematian ibu dan kematian bayi,” kata gubernur.

Gubernur menambahkan, salah satu fokus perhatian yang harus dilaksanakan adalah pemantauan pelaksanaan Revitalisasi Pembangunan Program Kependudukan dan KB melalui peningkatan kualitas pelayanan serta perluasan jangkauan pelayanan KB yang menyentuh keluarga miskin, di pedalaman, perbatasan dan daerah terpencil lainnya.

Sehubungan dengan itu, maka pada kesempatan ini saya harapkan agar Jajaran BKKBN dan Dinas/Instansi terkait yang menangani kependudukan dan KB terus melakukan sosialisasi dengan memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya pengendalian penduduk dan program KB, yaitu terlaksananya pembangunan secara berkesinambungan dan terwujudnya keluarga kecil yang sehat dan sejahtera.

Saran lain yang disampaikan Gubernur Awang Faroek adalah perlunya terus meningkatkan pembinaan dan keterampilan kepada para keluarga di dalam masyarakat  agar mereka dapat membina tumbuh kembang anak, remaja, serta  mempermudah keluarga untuk ikut akses terhadap sumber-sumber ekonomi melalui pemberdayaan keluarga melalui kegiatan ekonomi produktif.

Harapannya, melalui Program KB hendaknya dapat diberikan kontribusi terhadap percepatan sasaran MDG,s yaitu tercapainya 5 sasaran dari 8 sasaran MDG,s. Yakni pengentasan kemiskinan, penurunan kematian ibu, kelangsungan hidup anak, keadilan gender dan pemberdayaan perempuan, penanggulangan bahaya HIV dan AIDS, serta Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Untuk diketahui, IPM Indonesia pada tahun 2009 71,17 atau masuk peringkat 107 dari 159 Negara. Dibandingkan Malaysia yang sudah pada peringkat 53. Semementara itu IPM Kaltim 74,52 atau berada pada peringkat 5 Nasional, di bawah DKI Jakarta, Sulut, Riau dan DI Jogjakarta. Sedangkan IPM Kabupaten/Kota di Kaltim masing-masing Paser 73,46, Kubar  72,16, Kukar  72,03, Kutim  70,84,  Berau  72,75,  Malianu  71,78,  Bulungan  74,30,  Nunukan  72,86,  PPU 72,69,  Tana Tidung 70,68, Balik-papan 77,31, Samarinda  76,12,  Tarakan  75,92 dan Bontang 76,08.

Dari data ini menunjukkan bahwa IPM daerah kota lebih tinggi dibanding kabupaten, karena itu perlu ditingkatkan dengan berbagai terobosan di bidang kesehatan yang terintegrasi dengan program KB dan KS.

Untuk dapat mencapai target-target dan kelancaran program yang akan dilaksanakan, jajaran BKKBN dan SKPD yang menangani kependudukan dan KB, diharapkan agar terus meningkatkan jalinan kerjasama dan koordinasi yang baik dengan Pemerintah Provinsi, Peme-rintah Kabupaten/Kota, swasta dan para pihak terkait lainnya. (samsul arifin)

share on: