share on:
Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi (kanan) dan Kepala Perwakilan BKKBN Kaltim, Muhammad Edi Muin (kiri) saat menggelar jumpa pers.

IPKB Kaltim – Wakil Gubernur Provinsi Kalimantan Timur Hadi Mulyadi mengatakan Pemerintah Provinsi bersama BKKBN berupaya melakukan percepatan penurunan angka stunting  atau kekurangan gizi pada anak yang dinilai masih tinggi.

“Angka stunting di Kaltim sekitar 22 persen, sehingga ke depan Pemprov dan BKKBN Kaltim bekerja lebih maksimal menurunkan angka stunting,” kata Hadi Mulyadi, Kamis (3/2/2022) pada acara  perpisahan Kepala Perwakilan BKKBN Kaltim, Muhammad Edi Muin yang memasuki purna tugas.

Menurut Hadi yang harus disosialisasikan terkait stunting  adalah tentang pemenuhan gizi kepada anak. Sehingga perlunya meningkatkan kesadaran kepada pasangan baru yang ingin memiliki anak tentang tumbuh kembang otak anak, dimana dari usia 0 sampai 5 tahun adalah 50 persen merupakan pertumbuhan otak anak, sehingga pemenuhan gizi harus diperhatikan.

Dia mengingatkan kepada para anak-anak remaja dalam mengonsumsi makanan siap saji, junk food setelah dia menikah makanan yang sering dimakan siap saji sejak remaja terakumulasi. Ketika dia hamil gizi yang masuk dalam tubuh tidak sempurna karena adanya zat-zat yang  merusak.

“Perlunya kesadaran orang tua, ketika hamil harus gizi diberikan sejak anak dalam kandungan. Harusnya edukasi dan informasi ini disampaikan kepada remaja yang kuliah, karena mereka mendekati usia pernikahan,” katanya.

Hadi Mulyadi mengusulkan BKKBN Kaltim bekerjasama dengan pihak kampus memberikan edukasi dan informasi kepada mahasiswa pada saat KKN maupun pada saat wisuda pentingnya makanan bergizi, seimbang dan aman.

“Terima kasih kepada BKKBN Kaltim yang selama ini berupaya mengatasi beberapa persoalan salah satunya menurunkan angka stunting,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama Muhammad Edi Muin menambahkan bahwa saat ini BKKBN Kaltim penggalakan program Dapur Sehat Atasi Stunting  atau Dashat.

“Kita perlu mengedukasi masyarakat, merubah anggapan bahwa makanan sehat itu mahal, padahal makanan sehat itu tidak perlu mahal,” sebutnya.

Dia menjelaskan, periode 1.000 hari pertama kehidupan, seyogyanya menjadi perhatian khusus, karena penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan dan produktivitas anak di masa depan.

Menurutnya penurunan stunting dilakukan dengan pendekatan multi sektor melalui sinkronisasi program nasional, lokal dan masyarakat ditingkat pusat hingga daerah. Selain itu kerja sama lintas sektor, seperti ketahanan pangan, pembangunan sanitasi dan air bersih.

“Kepada generasi penerus saya, terutama Plt Kepala Perwakilan BKKBN Kaltim untuk  melanjutkan program Bangga Kencana dan menurunkan angka stunting,” pesan Edi Muin.

share on: