share on:

 

 

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo. (FOTO ANTARA/Muhammad Zulfikar)

 

Jakarta, (ANTARA) – Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan dalam menyukseskan kampanye pemberian ASI eksklusif pada bayi perlu selaras dengan upaya penurunan angka kehamilan tidak dikehendaki atau “unwanted pregnancy”.

“Saya harus bekerja lebih banyak lagi bagaimana faktor-faktor yang memengaruhi sukses ASI tidak terganggu, termasuk menurunkan angka ‘unwanted pregnancy’,” katanya saat diskusi daring pada peringatan Pekan Menyusui Sedunia yang dipantau di Jakarta, Rabu.

Ia menyebutkan saat ini di Indonesia masih ada sekitar 17,5 persen dari wanita hamil yang saat ditanya menyatakan sebenarnya belum ingin hamil.

Hal ini termasuk pula salah satu dampak dari pernikahan dini dimana dibaliknya terdapat banyak kehamilan-kehamilan yang tidak dikehendaki.

“Sehingga penting untuk bekerja dari hulu mulai dari sebelum seseorang menikah yang benar-benar harus mempersiapkan segala sesuatunya,” katanya.

Sebab, kata dia, kehamilan tidak dikehendaki tidak hanya memengaruhi program pemberian ASI eksklusif, namun juga secara umum kemudian membuat kurangnya perhatian orang tua kepada anak.

Menurutnya, kehamilan yang tidak dikehendaki atau dianggap tidak sengaja banyak terjadi di kota-kota besar, bahkan sebagai contoh ialah angka di Jakarta lebih tinggi dibandingkan kejadian di desa-desa.

“Jadi ini satu hal yang serius, penting untuk menurunkan angka unwanted pregnancynya terlebih dahulu,” katanya.

Oleh karena itu, ia meminta dukungan serta kerja sama dari berbagai pihak dan sektor, termasuk masyakarat untuk turut serta membantu menggalakkan pencegahan angka kehamilan yang tidak dikehendaki.

Selain itu, juga menyukseskan program pemberian ASI eksklusif yang sekaligus salah satu upaya pencegahan “stunting” pada anak, demikian Hasto Wardoyo.

 

share on: