share on:
Kepala Perwakilan BKKBN Kaltim Eli Kusnaeli dan Ketua IBI Kaltim (tengah) Hj Encik Widyani foto bersama dengan sejumlah wartawan setelah Media Gathering di Cafe Piramid, Samarinda.

IPKB Kaltim – Kepala  Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Timur, Eli Kusnaeli  menyatakan pemakaian alat kontrasepsi Keluarga Berencana (KB) merupakan kebutuhan, bisa dikatakan menjadi kebutuhan  pokok kedua setelah kebutuhan  utama seperti makan, tempat tinggal, sandang, dan lainnya.

“Orang perlu ber-KB karena banyak alasan seperti demi kesehatan, ingin anak-anaknya hidup sehat, sejahtera, mendapat pendidikan layak, dan sejumlah alasan lain,” katanya saat memberikan penjelasan pada kegiatan Media Gathering  dengan sejumlah wartawan di Cafe Piramid,Selasa.

Selama ini pihaknya terus melakukan sosialisasi tentang manfaat KB sehingga semakin banyak masyarakat  paham bahwa program KB bukan untuk membatasi anak, tapi untuk mengatur jarak kelahiran agar tidak terlalu dekat dan tidak terlalu tua melahirkan.

Atas pemahaman itulah sehingga masyarakat menjadikan KB sebagai kebutuhan, karena mereka sadar bahwa jika terlalu banyak melahirkan dengan jarak yang rapat, maka konsekuensinya adalah terhadap kesehatan ibu dan anak.

Termasuk bagi ibu usia tua namun masih hamil, maka akan terdapat risiko kematian saat melahirkan, baik kematian bagi sang ibu maupun bayi yang akan dilahirkan.

Untuk itu, pihaknya juga gencar mengkampanyekan ke masyarakat menghindari 4T (empat terlalu), yakni melahirkan terlalu muda, terlalu banyak (anak), terlalu rapat jarak kelahiran, dan terlalu tua melahirkan.l

Hal itu dikatakan Eli saat menggelar Media Gathering Program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) dalam rangka Hari Kontrasepsi Dunia 2018.

Dalam kegiatan ini ia didampingi Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Provinsi Kaltim,Hj Encik Widyani.

Menurut Encik, Program KB digalakkan karena untuk menghindari 4T tersebut.

Jika terlalu muda melahirkan (usia di bawah 20 tahun), umumnya kondisi panggul belum berkembang optimal, bahkan mental pun belum siap menjadi seorang ibu sehingga berisiko rumah tangga tidak harmonis.

Risiko lain ketika hamil muda adalah bayi lahir belum cukup bulan, perdarahan sebelum bayi lahir, perdarahan setelah bayi lahir karena rahim dan panggul belun berkembang sehingga mengakibatkan kesakitan dan kematian bagi ibu dan bayinya.

Sedangkan bagi ibu yang hamil terlalu tua, risikonya antara lain tekanan darah tinggi, ketuban pecah sebelum persalinan dimulai, persalinan macet karena ibu tidak kuat mengejan, perdarahan setelah bayi lahir, dan bayi yang dilahirkan memiliki berat badan rendah.

“Jika terlalu dekat jarak kehamilan, bisa terjadi keguguran, anemia, bayi lahir belum waktunya, terjadinya penyulit kehamilan. Sedangkan terlalu banyak anak, maka bisa terjadi robekan rahim pada kelainan letak lintang, persalinan lama, tumbuh kembang anak kurang optimal, dan menambah beban ekonomi keluarga,” ujar Encik Widyani. (*)

 

share on: