share on:

Samarinda – “Salah satu tantangan dan sekaligus permasalahan serius yang perlu ditangani dengan solusi tepat dalam menuju Indonesia Emas 2045 adalah stunting. Untuk itu, berbagai kebijakan dan upaya pun terus ditempuh demi mempercepat penurunan angka stunting, salah satunya dengan dikembangkannya aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (Elsimil)”.

Demikian disampaikan Sekretaris Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Timur, Al Khafid Hidayat, S.Pd.I., saat menyampaikan materi pada acara Sosialisasi Penggunaan Aplikasi Elsimil Balaikota Samarinda, pada Rabu (20/04).

Al Khafid menjelaskan bahwa upaya percepatan yang diamatkan dalam Perpres No. 72/2022 mengamanatkan untuk menutup setiap celah potensi yang dapat mengakibatkan anak lahir stunting.

“Aplikasi Elsimil adalah upaya pemerintah dalam memberikan keterbukaan informasi pada publik yang memastikan setiap calon pengantin dalam kondisi ideal untuk menikah dan hamil. Skrining ditindaklanjuti dengan pendampingan kesiapan menikah dan hamil kepada calon pengantin. Aplikasi ini sekaligus merupakan bentuk keseriusan pemerintah dalam upaya mencapai target stunting sebesar 14 persen pada 2024 mendatang,” ungkapnya.

Melalui Elsimil, calon pengantin bila sudah mendekati hari H untuk ijab kabul pernikahan, tiga bulan sebelumnya harus melakukan pemeriksaan kesehatan.

“Setidak-tidaknya yang diperiksa meliputi tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas dan anemi. Nantinya data tersebut dimasukkan dalam aplikasi Elsimil,” kata Al Khafid dihadapan para peserta sosialisasi yang adalah Lurah dan Penyuluh KB se-Kota Samarinda.

Bila calon pengantin dinyatakan memiliki anemia dari hasil pendataan tersebut, nantinya ia akan dikirimkan modul pemberitahuan untuk kembali ke fasilitas kesehatan untuk diberikan tablet darah yang dapat dikonsumsi calon ibu selama 90 hari, kemudian melakukan pemeriksaan kembali.

Sementara itu, bagi perempuan yang terdeteksi mengalami kurang gizi, nantinya akan diberikan edukasi mengenai cara untuk meningkatkan indeks massa tubuh, sehingga calon ibu dapat memenuhi syarat untuk hamil dan tidak melahirkan bayi dalam kondisi kekerdilan.

Lebih lanjut dikatakan Al Khafid bahwa Elsimil bukanlah sebagai hambatan untuk menikah. Justru aplikasi ini berfungsi untuk mendeteksi lebih awal terhadap potensi bayi yang akan dilahirkan kelak dengan melihat kodisi calon pasangan pengantin.

“Disebut pencegahan dari hulu karena intervensi yang dilakukan dimulai jauh sebelum terjadinya pernikahan dan kehamilan. Ini juga merespons data yang menyebutkan bahwa setiap tahun ada sekitara 1,6 juta pasangan menikah. Melalui pemantauan dan edukasi yang diberikan, diharapkan para ibu dapat melahirkan generasi yang sehat dan terbebas dari kekerdilan,” ungkapnya. (Rapsmoau, Dokumentasi: Ria Artanti dan Darna)

share on: